Transform This Blog Into Your Language

Sabtu, 13 Juli 2013

Belajar Rendah Hati Yuk..

Beberapa waktu yang lalu, mungkin lebih kurang sekitar seminggu yang lalu sejak saya menulis ini, saya beribadah di suatu komunitas gereja dimana saya dibesarkan. Tipe saya ketika mendengarkan pesan yang disampaikan oleh pembicara atau pengkotbah adalah saya tidak mudah fokus terhadap apa yang disampaikan oleh penbicara. Sering ketika saya mendengarkan kotbah, pikiran saya "ngglambyar" kemana2.. Untuk sesi kotbah yang akan saya ceritakan kali ini, pengkotbah mencoba untuk membawakan tiga pesan melalui tiga perikop alkitab yang berbeda. Tapi dari tiga perikop tersebut, yang paking menarik perhatian saya adalah perikop mengenai cerita Naaman. Cerita tentang Naaman ini bisa pembaca lihat pada kitab 2 Raja-Raja 5:1-14.

Disitu diceritakan bahwa Naaman yang adalah seorang panglima raja Aram terkena penyakit kusta. Dia mempunyai budak perempuan yang menyarankan Naaman untuk menemui nabi Allah (Elisa) di Israel. Setelah bertemu Elisa, Naaman diperintahkan untuk mandi sebanyak tujuh kali di sungai Yordan. Naaman sempat menolak, tetapi atas bujukan para ajudannya, akhirnya Naaman mau melakukannya dan seketika itu juga badannya menjadi tahir. Sakit kustanya hilang.

Yang jadi "point of interest" saya dalam kejadian ini adalah kerendahan hati Naaman. Naaman, yang merupakan panglima raja Aram, mau mendengarkan perkataan budak tawanan yang notabene tidak ada harganya sama sekali. Secara pangkat juga budak tersebut jauh berbeda dengan pangkat dan kedudukan Naaman. Butuh sebuah sikap rendah hati yang luar biasa besar bagi seorang yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi untuk mau mendengarkan perkataan seseorang yang notabene secara pangkat dan kedudukan jauh berada di bawahnya.

Kejadian kedua juga seperti itu. Ketika Naaman diperintahkan oleh Elisa untuk mandi sebanyak tujuh kali di sungai Yordan, Naaman sempat menunjukkan ego nya. Akan tetapi, Naaman kembali menunjukkan sikap rendah hati yang luar biasa ketika para ajudannya memohonnya untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Elisa.

Dari pikiran saya yang "ngglambyar" kemana-mana saat saya mendengarkan firman tersebut, satu kesimpulan (dari sudut pandang saya ya) yang saya bisa tarik dari kisah Naaman ini. Untuk seseorang mau dipulihkan, perlu sebuah kerendahan hati. Kerendahan hati untuk apa? Untuk mau mendengarkan, mendengarkan firman Tuhan, mendengarkan solusi yang ditawarkan oleh orang-orang yang pernah mengalaminya, mendengarkan saran dari orang-orang sekitar kita.

Well, itu sih yang bisa saya dapat dari hasil perenungan saya saat pikiran saya ngglambyar.. Hehehe.. Jangan ditiru ya.. :p

Kamis, 27 Juni 2013

Thank You for The Moments

Aku ingat bagaimana caramu menyapa..
Aku ingat bagaimana caramu tertawa..
Aku ingat bagaimana caramu menunjukkan dunia..
Meskipun kita sudah lama tak berjumpa..

Wajahmu bersih tanpa noda dan cela..
Suaramu semerdu nyanyian dari surga..
Kedamaian menyapa setiap kali kau tawarkan telinga..
Itulah kenapa setiap bersamamu tak pernah ku merasa hampa..

Bersamamu aku bisa menghadapi dunia..
Kamu selalu disana dan menjadi saksinya..
Dari saat mimpiku hanya sebatas wacana..
Sampai saat perlahan-lahan aku mampu menggapainya..

Aku ingat saat mata kita berteguran..
Senyum ramahmu menyuguhkan kenyamanan..
Dan senyum itu menciptakan keyakinan..
Kamu dan aku memang akan berjalan beriringan..

Dari kamu aku belajar keberanian..
Bersamamu aku berani membuat keputusan..
Karena kamu aku belajar mengalahkan keangkuhan..
Dan demi kamu juga aku berani melakukan pengorbanan..

Aku ingat saat-saat kita bersama dulu..
Berjalan-jalan keliling kota sambil ku memegang tangan kirimu..
Sampai tak terasa kita sudah jalan hingga jam sepuluh..
Itu semua tak akan pernah hilang dari ingatanku..

Aku ingat saat pertama memeluk kamu..
Sengaja aku lama-lama memelukmu..
Seakan aku bisa mengangkat aroma bebanmu disitu..
Saat itu lah aku merasa menjadi pria berguna bagimu..

Tapi aku sadar, hidup ini mungkin terlalu panjang untuk cerita cinta kita..
Aku sadar, masa lalu biarlah menjadi nostalgia..
Sekalipun sebenarnya aku amat sangat ingin bersamamu selamanya..
Adakah waktu untuk kita memulai segala sesuatunya dari semula?

Awalnya aku mengira jaraklah yang patut dipersalahkan..
Tapi sekarang aku mengerti, kitalah yang layak dipertanyakan..
Mungkinkah cinta ini hanya sekedar selingan?
Atau cinta ini layak dibawa hingga akhir kehidupan?

Aku percaya jarak tak pernah salah..
Aku percaya jarak tak mampu membuat cinta ini lemah, bahkan musnah..
Aku percaya jarak tak pernah jahat..
Aku percaya, justru jarak yang mendidik kita menjadi pasangan yang hebat..

Tapi tampaknya kini kau menyerah..
Dan akupun tak bisa melawan atau menebar amarah..
Karena kisah ini diawali dengan indah..
Aku tak ingin semuanya diakhiri dengan rasa gelisah..

Selalu ku berharap untuk dirimu..
Membangun lagi kisah kita dari awal, antara aku dan kamu..
Aku tak pernah berhenti bertanya kepada Tuhan seperti ini..
Akankah ada waktu untuk kami membangun kisah ini dari awal lagi?

I remember when you asked me to write something about our story. And so sorry that I just do it right now. At least I have done what
I've promised. Thank you for the memories, Patricia Diella Budiarto..
I wish that we can continue our story..

Journey of Love

Beberapa hari yang lalu, sekitar tanggal 21-24 Juni 2013, aku pergi ke ibukota. Tujuanku pergi kesana yang pertama adalah aku pengen ketemu Patricia/Patty, dan juga untuk ngasi kado ultahnya karena tanggal 23 Juni kemarin dia ultah. Perlu diketahui sebelumnya kalo sebelum aku berangkat ke Jakarta, aku dan Patty sempat bersitegang, yang ujung2nya dia minta untuk mengakhiri hubungan, atau dengan kata lain putus. Sempet galau, sempet ga punya semangat untuk nglanjutin hidup ketika dia ngajak untuk mengakhiri hubungan. Sampai akhirnya terbersit sebuah ide nekat: kenapa aku ga langsung berangkat aja ke Jakarta untuk ketemu sama dia, sekaligus ngasi kado untuk ultahnya. Yang jadi pikiran waktu itu adalah, I have no money!! Tapi akhirnya, thanks to my brother, aku dikasi pinjam uang 300rb. Sebelum berangkat pun sempat bimbang, berangkat ga ini. Tapi akhirnya dengan bondo nekat aku berkata sama diriku sendiri, Ibukota, tunggulah pejuang cinta ini menaklukkanmu!!
Berangkat dari Malang hari Jumat jam 8 pagi dengan sepeda motor Honda Revo tercinta, berhenti di kota Ngawi dan ketemu saudara sepupuku, puji Tuhan dikasi sangu 100rb. Lumayan buat nambah modal, hehe. Total perjalanan adalah 2 hari. Sedangkan jika ditotal secara jam adalah sekitar 28 jam, dengan jarak tempuh lebih kurang 1000 km. Sebelum berangkat, aku sudah meyakinkan diriku untuk mau menerima apapun risikonya. Termasuk jika Patty ga mau ngelanjutin hubungannya lagi sama aku. Dan memang itu yang terjadi. Dan saya sama sekali ga menyesal karena sudah melakukan perjalanan jauh ini seorang diri. Sekalipun nanti di dalam perjalanan ada kejadian buruk yang menimpa aku, aku sama sekali ga akan menyesal. Aku puas bisa melakukan hal terbaik yang bisa kulakukan untuk menjaga hubunganku dengan Patty.
Konyol? Iya.. Bodoh? Bangeettt. Tp emang bener kata Agnes Monica, cinta itu kadang2 ga ada logika.

Nb: maaf ga ada foto2 yang bisa dijadikan bukti, karena aku pergi sendirian dari Malang ke Jakarta dengan menggunakan sepeda motor, jadi ga ada teman yang bisa bantuin foto. Hehehe.. :p

Sabtu, 25 Juni 2011

Delapan Kebohongan Seorang Ibu Dalam Hidupnya

Dalam kehidupan kita sehari-hari, kita percaya bahwa kebohongan akan
membuat manusia terpuruk dalam penderitaan yang mendalam, tetapi kisah
ini justru sebaliknya.
Dengan adanya kebohongan ini, makna sesungguhnya dari kebohongan ini
justru dapat membuka mata kita dan terbebas dari penderitaan, ibarat sebuah energi yang mampu mendorong mekarnya sekuntum bunga yang paling indah di dunia.



- Ketika makan, ibu sering memberikan porsi

nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata :



"Makanlah nak, aku tidak lapar"



KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA



Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu
senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia bisa memberikan sedikit makanan bergizi untuk petumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping gw dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan sumpitku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata :



"Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan"


KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA



Sekarang aku sudah masuk SMP, demi membiayai sekolah abang dan kakakku,
ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak korek api untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kebutuhan hidup. Di kala musim dingin tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaanny menempel kotak korek api. Aku berkata

:"Ibu, tidurlah, udah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.

" Ibu tersenyum dan berkata :"Cepatlah tidur nak, aku tidak capek" ---------



KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA



Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi lonceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum.



Ibu berkata :"Minumlah nak, aku tidak haus!"



KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT



Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai kebutuhan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang paman yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka,



Ibu berkata : "Saya tidak butuh cinta" ----------



KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA



Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan
bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pensiun. Tetapi ibu tidak mau, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi kebutuhan ibu, tetapi ibu bersikukuh tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut.



Ibu berkata : "Saya punya duit" ----------



KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM



Setelah lulus dari S1, aku pun melanjutkan studi ke S2 dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universitas ternama di Amerika berkat sebuah beasiswa di sebuah perusahaan. Akhirnya aku pun bekerja di perusahaan itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mau merepotkan anaknya, ia berkata kepadaku :



"Aku tidak terbiasa" ----------



KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH



Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanker lambung, harus dirawat di rumah sakit, aku yang berada jauh di seberang samudra atlantik langsung segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani operasi. Ibu yang keliatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku sambil menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perih, sakit

sekali melihat ibuku dalam kondisi seperti ini. Tetapi ibu dengan

tegarnya berkata :



"Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan" ----------



KEBOHONGAN IBU YANG KEDELAPAN.



Setelah mengucapkan kebohongannya yang kedelapan, ibuku tercinta

menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya

percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali

mengucapkan : " Terima kasih Ibu ! "



Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon

ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita

untuk berbincang dengan ayah ibu kita?



Di tengah-tengah aktivitas kita yang padat ini, kita selalu mempunyai

beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita

selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan

dengan pacar ('afwan yah nyindir yg pacaran), kita pasti lebih peduli

dengan pacar. Buktinya, kita selalu cemas akan kabar pacar, cemas

apakah dia sudah makan atau belum, cemas apakah dia bahagia bila di

samping kita...??



Namun, apakah kita semua pernah mencemaskan kabar dari ortu kita? Cemas

apakah ortu kita sudah makan atau belum? Cemas apakah ortu kita sudah

bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan

kembali lagi...


Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi ortu kita,

lakukanlah yang terbaik.

Shared from : sumber

Jumat, 10 Juni 2011

Apakah Tuhan Itu ada? (Buah Pemikiran Einstein)


Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, “Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?”.
Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, “Betul, Dia yang menciptakansemuanya”. “Tuhan menciptakan semuanya?” Tanya professor sekali lagi. “Ya, Pak, semuanya” kata mahasiswa tersebut. Profesor itu menjawab, “Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah
kejahatan.” Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, “Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?” “Tentu saja,” jawab si Profesor. Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, “Profesor, apakah dingin itu ada?” “Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?” Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya. Mahasiswa itu menjawab, “Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.

Mahasiswa itu melanjutkan, “Profesor, apakah gelap itu ada?” Profesor itu menjawab, “Tentu saja itu ada.” Mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya diruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya.”

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, “Profesor, apakah kejahatan itu ada?” Dengan bimbang professor itu menjawab, “Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya. Kita melihat setiap hari, Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan.”

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, “Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya.”

Profesor itu terdiam.



Dan mahasiswa itu adalah Albert Einstein.